A. NamaInovasi
Hati Si Kamila Imut (Pencegahan Stunting dengan Skrining Kesehatan dan Telekonseling Gizi Balita yang Mudah, dan Terintegrasi).
B. Dibuat Oleh
Puskesmas Ngimbang Kabupaten Lamongan
C. Tahapan Inovasi
1. Identifikasi Permasalahan
Angka kejadian stunting dan gizi kurang pada balita masih tinggi di Puskesmas Ngimbang. Pada tahun 2025, angka kejadian stunting dan gizi kurang berdasarkan data tarikan bulan Februari 2025 mencapai 93 balita stunting dan 127 balita gizi kurang. Banyak factor yang menyebabkan tingginya kejadian stunting dan gizi kurang, antara lain pola asuh, status kesehatan balita, akses terhadap makanan, lingkungan, penyakit infeksi, dan masih banyak lagi. Penyebab langsung yang berhubungan dengan status gizi yaitu asupan makan dan penyakit infeksi.
Hal yang dilakukan yaitu dengan melakukan skrining dan anamnesa terhadap pola makan balita. Apabila balita memiliki pola makan yang buruk, maka akan diberi konseling untuk perbaikan asupan makan. Jika pola makan baik namun balita masih mengalami stunting atau gizi kurang, maka akan dilakukan skrining TB untuk mengetahui apakah balita memiliki infeksi laten penyakit TB. Namun demikian, meski telah dilakukan skrining dan anamnesa terhadap pola makan dan skrining deteksi TB, terdapat beberapa permasalahan untuk proses tindak lanjut setelahnya.
Dilakukan identifikasi terhadap permasalahan pelayanan gizi di wilayah kerja Puskesmas Ngimbang. Permasalahan pertama adalah terbatasnya kontinuitas pelayanan gizi setelah pasien selesai mendapatkan konsultasi di poli gizi. Sebagian besar komunikasi dan edukasi berhenti pada saat kunjungan, sehingga tindak lanjut terhadap kepatuhan diet, perubahan perilaku makan, maupun perkembangan kondisi pasien belum dapat dilakukan secara optimal.
Permasalahan kedua adalah masih terdapat balita dan keluarga yang berada pada wilayah posyandu terluar dan terjauh dari wilayah kerja Puskesmas Ngimbang yang tidak dapat dijangkau secara rutin oleh tenaga gizi karena keterbatasan waktu, jarak, dan sumber daya. Kondisi ini menyebabkan pendampingan dan pemantauan status gizi belum dapat dilakukan secara berkelanjutan kepada seluruh sasaran.
Selain itu, keterbatasan waktu kunjungan pasien ke fasilitas kesehatan, kesibukan keluarga, serta hambatan jarak dan transportasi juga menjadi faktor yang menyebabkan masyarakat tidak selalu dapat mengakses pelayanan gizi secara langsung ketika membutuhkan konsultasi. Berdasarkan kondisi tersebut, diperlukan suatu inovasi yang mampu memperluas akses pelayanan, memperkuat tindak lanjut pasien, dan memungkinkan komunikasi antara tenaga gizi dengan masyarakat tetap berlangsung secara berkelanjutan.
2. Perencanaan Inovasi
Melakukan skrining kesehatan dan konseling pemberian makan. Kemudian dilanjutkan menyusun konsep pelayanan telekonseling dan pendampingan nutrisi digital yang mudah diakses masyarakat dengan memanfaatkan media komunikasi yang telah familiar digunakan, seperti WhatsApp, Instagram, telepon WhatsApp, dan email.
3. Penyusunan Media dan Sarana Pendukung
Membuat desain kartu informasi layanan, menyiapkan media edukasi digital, menyusun alur pelayanan, serta menyiapkan materi penyebarluasan informasi kepada masyarakat dan tenaga kesehatan.
4. Sosialisasi dan Penyebarluasan Informasi
Informasi layanan disebarluaskan melalui 19 bidan desa dan pemberian kartu informasi kepada pasien dan klien yang berkunjung ke Poli gizi. Selain itu
5. Implementasi Inovasi
Pelaksanaan skrining kesehatan dan layanan telekonselingpendampingan nutrisi digital kepada pasien dan keluarga melalui media komunikasi digital untuk konsultasi, edukasi, monitoring, dan tindak lanjut pelayanan gizi.
6. Monitoring dan Evaluasi
Pada pasien yang diskrining TB dipantau selama 1 minggu. Jika hasil negatif, maka pasien dilanjutkan rawat jalan biasa. Jika hasil positif, maka pasien akan dilakukan pendampingan melalui telekonseling gizi untuk dipantau setiap hari terkait pola makan dan pola hidupnya. Selain itu dilakukan pemantauan jumlah pengguna layanan, tindak lanjut pasien, umpan balik pengguna, serta evaluasi terhadap kendala dan kebutuhan pengembangan layanan guna meningkatkan kualitas pelayanan secara berkelanjutan.
D. InisiatorInovasiDaerah
Puskesmas Ngimbang Kabupaten Lamongan
NamaInisiator:Muhammad Iqbal Alif Kumara, S.Tr.Gz., Dietisien
E. JenisInovasi
Non digital
F. BentukInovasiDaerah
InovasiPelayananPublik
G. Tematik
Kesehatan
H. Urusan Pemerintahan
UrusanUtama:Kesehatan
UrusanLain yangBeririsan:Komunikasi dan Informatika
I. WaktuUjiCobaInovasiDaerah
Januari 2025
J. WaktuPenerapanInovasidaerah
Oktober 2025
K. WaktuPengembanganInovasidaerah
Januari 2026
L. Latar Belakang
Pelayanan gizi merupakan salah satu upaya kesehatan yang memerlukan pendampingan berkelanjutan agar perubahan perilaku dan kepatuhan terhadap anjuran gizi dapat tercapai secara optimal. Namun dalam pelaksanaannya, pelayanan gizi masih menghadapi berbagai kendala. Setelah pasien mendapatkan konsultasi di Poli gizi, komunikasi dan edukasi sering kali terhenti sehingga tindak lanjut terhadap kepatuhan diet, perubahan perilaku makan, maupun perkembangan kondisi pasien belum dapat dilakukan secara optimal. Selain itu, masih terdapat balita dan keluarga yang berada di wilayah posyandu terluar dan terjauh dari wilayah kerja Puskesmas Ngimbang yang tidak dapat dijangkau secara rutin oleh tenaga gizi karena keterbatasan waktu, jarak, dan sumber daya yang tersedia. Kondisi tersebut menyebabkan pemantauan dan pendampingan gizi belum dapat diberikan secara berkelanjutan kepada seluruh sasaran.
Banyak factor penyebab stunting dan gizi kurang pada balita, salah satunya penyebab langsung yaitu infeksi dan asupan makan. Pada penyakit infeksi seperti TB, cacingan, ISPA, dan lainnya, diatasi dengan skrining dan pemeriksaan kesehatan. Pada asupan, jika balita mengalami gangguan makan, maka akan dilakukan konseling terkait pemberian makan dan anak.
Permasalahan lain yang juga ditemukan yaitu belum optimalnya akses konsultasi gizi bagi pasien rawat inap pada saat ahli gizi tidak berada di tempat, misalnya karena tugas luar, kegiatan lapangan, pelatihan, maupun hari libur. Padahal pasien dan keluarga sering memerlukan informasi terkait diet, pengaturan makan, maupun edukasi gizi selama masa perawatan. Di sisi lain, keterbatasan waktu kunjungan pasien ke fasilitas kesehatan, kesibukan pasien atau klien, serta hambatan jarak dan transportasi turut memengaruhi kemudahan akses masyarakat terhadap pelayanan gizi.
Perkembangan teknologi komunikasi memberikan peluang untuk menghadirkan pelayanan gizi yang lebih mudah dijangkau, fleksibel, dan berkelanjutan. Berdasarkan kondisi tersebut, Puskesmas Ngimbang mengembangkan inovasi HATI SI KAMILA IMUT (Pencegahan Stunting dengan Skrining Kesehatan Melalui Telekonseling Gizi Balita yang Mudah, dan Terintegrasi) sebagai layanan pemeriksaan kesehatan yang memadukan skrining kesehatan dan telekonseling gizi yang memanfaatkan media komunikasi digital untuk mendukung edukasi, konsultasi, monitoring, dan tindak lanjut pasien secara berkesinambungan.
M. Data Pendukung
Data menunjukkan bahwa balita stunting pada tahun 2025 sebanyak 105 balita dan tahun 2026 sebanyak 93 balita. Data gizi kurang tahun 2025 sebanyak 127 balita dan tahun 2026 sebanyak 111 balita. Pada pasien balita skrining kesehatan yang diperiksa TB, pada tahun 2025 sebanyak 1025 terduga dengan 110 balita positif terobati. Pada tahun 2026 sebanyak 426 terduga dengan 76 balita positif terobati.l
Wilayah kerja Puskesmas Ngimbang memiliki cakupan 19 desa dan 80 posyandu yang tersebar dengan karakteristik geografis yang menyebabkan sebagian sasaran berada pada lokasi yang relatif jauh dari pusat pelayanan kesehatan. Kondisi tersebut menjadi salah satu kendala dalam pelaksanaan pendampingan dan pemantauan gizi secara berkelanjutan, terutama bagi balita dan keluarga yang berada di wilayah posyandu terluar.
Selain itu, pelayanan konsultasi gizi di Poli gizi selama ini umumnya berakhir pada saat kunjungan pasien ke fasilitas kesehatan. Tindak lanjut terhadap kepatuhan diet, perkembangan kondisi pasien, maupun konsultasi lanjutan sering kali terkendala oleh keterbatasan waktu kunjungan, jarak tempat tinggal pasien, dan kesibukan keluarga.
N. Kebaruan/Nilai Inovatif
1. Menyediakan akses konsultasi dan pendampingan gizi berbasis digital yang dapat diakses setiap hari Senin-Kamis selama 24 jam
2. Memungkinkan pasien dan keluarga berkonsultasi secara langsung dengan tenaga gizi melalui media yang telah familiar digunakan masyarakat
3. Mengintegrasikan jejaring bidan desa sebagai sarana penyebarluasan informasi layanan.
4. Menghadirkan pendampingan gizi berkelanjutan setelah pasien pulang dari fasilitas kesehatan
5. Menghadirkan pendampingan gizi berkelanjutan yang termonitoring pada balita di posyandu yang letaknya jauh dari puskesmas
6. Menghadirkan pendampingan gizi secara langsung melalui jarak jauh pada pasien rawat inap
7. Menerapkan mekanisme respons terjadwal untuk menjaga profesionalisme, kualitas pelayanan, dan etika komunikasi
8. Dilaksanakan dengan biaya sangat minimal melalui optimalisasi sumber daya yang telah tersedia
O. Rancang Bangun dan Pokok Perubahan yang Dilakukan
Sebelum inovasi HATI SI KAMILA IMUT diterapkan, hampir tidak ada tindak lanjut pemantauan pasien saat di rumah. Dalam hal pelayanan gizi, di Puskesmas Ngimbang sebagian besar dilakukan secara tatap muka melalui Poli gizi, kunjungan lapangan, dan visite pasien rawat inap. Pola pelayanan tersebut memiliki beberapa keterbatasan. Setelah pasien selesai berkonsultasi di Poli gizi, komunikasi dan tindak lanjut sering kali terhenti sehingga pemantauan kepatuhan diet dan perkembangan kondisi pasien belum dapat dilakukan secara optimal. Selain itu, balita dan keluarga yang berada di wilayah posyandu terluar dan terjauh tidak selalu dapat memperoleh pendampingan gizi secara rutin karena keterbatasan waktu, jarak, dan sumber daya. Pada pelayanan rawat inap, pasien dan keluarga juga mengalami keterbatasan akses konsultasi gizi ketika ahli gizi sedang melaksanakan tugas luar, kegiatan lapangan, pelatihan, maupun pada hari libur.
Melalui HATI SI KAMILA IMUT, dilakukan perubahan pola pelayanan dari yang semula didominasi pelayanan tatap muka menjadi pelayanan yang terintegrasi dengan komunikasi digital. Penyebarluasan informasi layanan dilakukan melalui 19 bidan desa dan pemberian kartu informasi layanan kepada pasien dan keluarga. Masyarakat dapat menghubungi ahli gizi melalui WhatsApp, telepon WhatsApp, Instagram, maupun email sesuai kebutuhan.
Inovasi ini memungkinkan pasien yang diskrining kesehatan tetap memperoleh pendampingan dan tindak lanjut setelah kunjungan, memudahkan balita dan keluarga di wilayah terluar untuk berkonsultasi tanpa harus datang ke Puskesmas, serta memberikan akses konsultasi bagi pasien rawat inap dan keluarganya ketika membutuhkan informasi terkait diet dan pengaturan makan. Dengan demikian, pelayanan skrining kesehatan terutama gizi menjadi lebih mudah diakses, berkelanjutan, responsif, dan tidak terbatas oleh jarak maupun waktu kunjungan ke fasilitas kesehatan.
P. Tujuan Inovasi
1. Tujuan Umum
Meningkatkan aksesibilitas, efektivitas, fleksibilitas, dan kontinuitas pelayanan gizi bagi anak dan keluarga serta pasien rawat inap melalui pemanfaatan teknologi komunikasi digital dengan harapan mengatasi angka kejadian stunting dan gizi kurang pada balita
2. Tujuan Khusus
a. Melakukan skrining kesehatan secara rutin untuk mendeteksi penyakit infeksi
b. Melakukan konsultasi gizi melalui tatap muka dilanjutkan jarak jauh
c. Memfasilitasi tindak lanjut dan pendampingan gizi secara berkelanjutan setelah pasien memperoleh pelayanan di Poli gizi.
d. Memperluas jangkauan pelayanan gizi kepada balita dan keluarga yang berada di wilayah posyandu terluar dan terjauh dari Puskesmas Ngimbang.
e. Mengatasi hambatan jarak, waktu, dan mobilitas masyarakat dalam memperoleh pelayanan gizi.
f. Meningkatkan kemudahan komunikasi antara tenaga gizi dengan pasien, keluarga, dan masyarakat.
g. Mendukung pemantauan perkembangan pasien, kepatuhan diet, serta perubahan perilaku gizi secara berkesinambungan.
h. Meningkatkan kualitas pelayanan gizi yang adaptif, mudah diakses, dan berorientasi pada kebutuhan pengguna layanan.
Q. Manfaat yang Diperoleh
1. Bagi Masyarakat
a. Memudahkan mendeteksi penyakit penyebab stunting dan gizi kurang pada balita
b. Memudahkan pasien dan keluarga memperoleh akses konsultasi gizi tanpa harus datang langsung ke Puskesmas Ngimbang.
c. Memungkinkan pasien tetap mendapatkan pendampingan, edukasi, dan tindak lanjut setelah selesai mendapatkan pelayanan di Poli gizi
d. Mempermudah balita dan keluarga yang berada di wilayah posyandu terluar dan terjauh untuk memperoleh pelayanan konsultasi dan pendampingan gizi.
e. Memberikan akses konsultasi gizi bagi pasien rawat inap dan keluarganya ketika membutuhkan informasi mengenai diet, pemilihan makanan, dan pengaturan makan selama masa perawatan.
f. Mengurangi hambatan jarak, waktu, biaya transportasi, dan mobilitas masyarakat dalam memperoleh pelayanan gizi.
2. Bagi Tenaga Gizi
a. Memperoleh data penyakit penyebab stunting dan gizi kurang
b. Mempermudah pelaksanaan monitoring dan tindak lanjut pasien secara berkelanjutan.
c. Memperkuat komunikasi dan hubungan antara tenaga gizi dengan pasien maupun keluarga.
d. Meningkatkan efektivitas penyampaian edukasi gizi dan pemantauan kepatuhan diet pasien.
3. Bagi Puskesmas
a. Memudahkan memberikan tindak lanjut penanganan balita stunting dan gizi kurang
b. Meningkatkan aksesibilitas dan kualitas pelayanan gizi kepada masyarakat.
c. Mendukung transformasi pelayanan kesehatan berbasis digital yang mudah, responsif, dan berorientasi pada kebutuhan pengguna layanan.
d. Meningkatkan kepuasan masyarakat terhadap pelayanan gizi melalui pelayanan yang lebih cepat, mudah diakses, dan berkelanjutan.
e. Menjadi alternatif pelayanan yang tetap dapat dimanfaatkan masyarakat meskipun tenaga gizi sedang melaksanakan tugas luar, kegiatan lapangan, pelatihan, atau pada hari libur.
f. Mengetahui secara tepat tangka kejadian stunting dan gizi kurang pada balita sehingga tepat dalam melakukan langkah penanganan berikutnya
g. Menurunkan angka kejadian stunting dan gizi kurang pada balita
R. Hasil Inovasi
Sejak diterapkan pada Januari 2025, HATI SI KAMILA IMUT telah dimanfaatkan oleh sekitar 40 pasien poli gizi serta pasien dan keluarga peserta skrining kesehatan yang diundang untuk melakukan tes kesehatan. Seluruh bidan desa di wilayah kerja Puskesmas Ngimbang yang berjumlah 19 orang telah dilibatkan dalam penyebarluasan informasi layanan.
Pasien yang dirujuk ke poli rawat jalan untuk skrining kesehatan apabila hasil tes TB positif, maka diberikan pendampingan secara kontinyu melalui telekonseling.
Berdasarkan hasil pemantauan jumlah kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas Ngimbang Lamongan, diperoleh data sebagai berikut yang diambil per bulan Februari dan Agustus sesuai bulan timbang. Pada Februari 2025, jumlah balita stunting sebanyak 116, pada Agustus 2025 berkurang menjadi 93, pada Februari 2026, berkurang lagi menjadi 81 balita. Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa adanya layanan inovasi ini dapat membantu pemantauan balita bermasalah gizi secara langsung dan kontinyu sehingga terjadi perbaikan kondisi menuju arah positif.
Melalui inovasi ini, pasien yang telah memperoleh pelayanan di poli gizi dapat tetap berkomunikasi dengan tenaga gizi untuk memperoleh edukasi, konsultasi, dan tindak lanjut tanpa harus datang kembali ke fasilitas kesehatan. Inovasi ini juga memberikan alternatif akses pelayanan bagi balita dan keluarga yang berada di wilayah posyandu terluar dan terjauh sehingga konsultasi gizi dapat dilakukan dengan lebih mudah.





